Membuat Sengkalan

in so you know

Script sengkalan saya di github sudah saya update supaya ada terjemahannya. Atas masukan dari mas @MahisaMedari saya tambahkan lagi candrasengkala (perhitungan sengkalan berdasar tahun Jawa). Sekalian saja saya pasang di sini sebagai service. Silakan yang ingin mencoba.

Apa itu Sengkalan?

Sengkalan adalah cara penulisan angka tahun menjadi deretan kata dan membentuk kalimat baru yang memiliki makna tersendiri. Biasanya kalimat yang tersusun itu menggambarkan atau melambangkan kejadian yang terjadi di tahun itu. Contoh yang paling terkenal adalah sengkalan tahun keruntuhan Majapahit, yang dituliskan sebagai Sirna Ilang Kertaning Bumi. Kalimat ini melambangkan angka tahun 1400, adapun kalimatnya sendiri memiliki arti: “Hilangnya kesejahteraan dari muka bumi”.

Metodenya?

Sebenarnya tidak sulit, langkah pertama adalah dengan membalik angka tahun. Jadi semisal tahun 1400, maka sengkalannya dibikin dengan urutan 0041, sehingga untuk tahun 2020 kita harus mengubah angka tahun itu menjadi 0202.

Setelah membalik angka tahun, lantas masing-masing angka dicari kata yang melambangkan angka tersebut. Bagaimana itu? Ya, dalam bahasa/budaya Jawa, masing-masing kata selain memilki arti, juga diperhatikan bahwa kata tersebut memiliki sifat tertentu.

Angka 1

Untuk kata/benda yang memiliki watak atau sifat 1, adalah kata/benda yang memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. Cacah/jumlahnya satu: aji (harga, nilai), bangsa , bathara , budaya, budi , dewa , dhara (perut), gusti, hyang, nabi, narendra , narpa (raja), narpati (raja), nata (raja), pangeran, praja (negara), raja, ratu. swarga (surga), tata (aturan), wani (berani), wiji (biji), urip (hidup).
  2. Bentuknya bulat: bawana (bumi), bumi , candra (bulan), jagad (bumi), kartika (bintang), rat (bumi), srengenge (matahari), surya (matahari), wulan (bulan).
  3. Berarti ‘satu’: eka, nyawiji (menyatu) , siji, tunggal.
  4. Berarti ‘orang’: janma, jalma, manungsa, tyas, wong
  5. Gusti Allah, Nabi, Janma, Srengenge, Rembulan, Bumi, Lintang, Sirah, Gulu, Nata, Irung, Ati, Bunder, Iku, Urip, Aji, Praja, Tunggal, Wutuh, Nyata, Eka,

Angka 2

Sementara untuk kata/benda dengan watak 2, adalah benda/kata yang:

  1. Cacah/jumlahnya dua : asta (tangan), kuping, mata, netra, paningal (mata), soca (mata), swiwi (sayap), talingan (telinga), sungu (tanduk), supit.
  2. Fungsi dari benda/kata dari nomor 1 di atas: ndeleng (melihat), ndulu (melihat), ngrungu (mendengar), traju/nraju (posisi pundak/bahu yang seimbang)
  3. Berarti ‘dua’: apasang, dwi, kalih, kembar, penganten.
  4. Tangan, Suku, Mripat, Swiwi, Alis, Penganten, Kembar, Nembah, Nyawang, Nyekel, Mireng, Lumaku, Mabur, Dwi

Angka 3

Benda atau kata yang memiliki watak 3 adalah benda/kata yang:

  1. Berarti ‘api’ : agni , dahana , geni , pawaka , puji
  2. Sifat api: benter (panas), murub (menyala), kukus (asap), panas , sorot , sunar (sinar, cahaya), urub (nyala).
  3. Berarti ‘tiga’: hantelu, mantri , tiga, tri, trisula, trima, ujwala, wredu
  4. Geni, Murub, Panas, Putri, Estri, Welut, Jurit, Kaya, Lir, Guna, Cacing, Sorot, Tri

Angka 4

Benda atau kata dengan watak 4, adalah benda atau kata yang:

  1. Berkaitan dengan air: bun (embun), her , tirta, toya, samodra, sendang, segara (laut), sindang, tasik (laut), wedang, udan.
  2. Berarti ‘empat’: papat, pat, catur, sekawan, keblat, warna (kasta)
  3. Berarti ‘bekerja’: karya, karta, kirti, kretaning, pakarti
  4. Banyu, Segara, Kali, Kreta, Keblat, Karya, Bening, Brahmana, Satriya, Sudra, Catur

Angka 5

Benda atau kata dengan watak lima adalah yang:

  1. Cacahnya lima: cakra (roda), driya (indra), indri, indriya, pandawa
  2. Berarti ‘raksasa’ : buta , danawa, diyu, raseksa, raseksi, wisaya, yaksa
  3. Berarti ‘senjata’: bana, gaman , panah, pusaka, sara, jemparing , warajang, lungid (tajam)
  4. Berarti ‘angin’ : angin , bayu, samirana, maruta, sindung
  5. Berarti ‘lima’: lima , gangsal, panca, pandawa
  6. Buta, Angin, Alas, Jemparing, Tata, Pandawa, Panca

Angka 6

Untuk yang berwatak enam adalah yang memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. Berkaitan dengan ‘rasa’: amla, asin, dura, gurih, kecut, legi , pait, pedes, rasa, sinesep, tikta
  2. Benda ‘asal rasa’: gendis, gula, uyah
  3. Berarti ‘enam’: nem, retu (enam tahun), sad,
  4. Hewan ‘berkaki enam’: bramara, hangga-hangga (laba-laba), kombang, semut , tawon
  5. Rasa (legi, pait, asin), Tawon, Lemut, Obah, Wayang, Mangsa, Kayu, Sad

Angka 7

Watak tujuh diwakili oleh:

  1. Berkaitan dengan ‘petapa’: biksu, dhita, dwija, muni , pandhita, resi, sabda, suyati wiku, yogiswara, wasita
  2. Berarti ‘kuda’ : aswa, jaran, kapal, kuda, turangga , wajik.
  3. Berarti ‘gunung’: ancala , ardi, arga, giri, gunung, prawata, wukir
  4. Berarti ‘tujuh’: pitu, sapta,
  5. Gunung, Tunggangan, Pandita, Swara, Guru, Mulang, Sapta

Angka 8

Watak delapan melekat pada:

  1. Berkaitan dengan ‘hewan melata’ : bajul, baya, bunglon, cecak, menyawak, slira, tanu, murti.
  2. Berarti ‘gajah’: gajah, dirada , dwipangga, esthi, kunjara, liman, matengga
  3. Berarti ‘naga’: naga, sawer, taksaka , ula
  4. Berarti delapan : asta, wolu
  5. Gajah, Naga, Baya, Wasu, Pujangga, Tekek, Kadal, Ngesthi, Wanara, Astha

Angka 9

Benda atau kata berwatak sembilan adalah yang:

  1. Benda ‘berlubang’: ambuka, babahan, butul (tembus), dwara, gapura, gatra (wujug), hanggatra, guwa, lawang, rong, song, trusta, wiwara, wilasita,
  2. Berarti ‘sembilan’: nawa, raga, rumaga, sanga.
  3. Lawang, Gapura, Guwa, Jawata, Menga, Ganda, Terus, Nawa

Angka 0

Angka 0 istimewa dalam budaya Jawa. Maka ditempatkan di posisi terakhir. Dia adalah angka tertinggi, bahwa setelah mencapai puncak tertinggi, akan kembali ke 0. Maka benda/kata yang mengandung watak 0 (nol) adalah:

  1. Bersifat tidak ada atau hampa: asat, boma, gegana, ilang , murca (hilang) , musna , nir (tanpa), sirna (hilang), suwung, sunya, tan, umbul (melayang).
  2. Berarti ‘langit’: akasa, gegana, dirgantara, langit, swarga, tawang ;
  3. Sifat langit: duwur, inggil, luhur
  4. Bersifat menuju langit : tumenga, mumbul, muluk, mesat
  5. Suwung, Sirna, Rusak, Tanpa, Ilang, Mati, Muluk, Sampurna, Paripurna, Duwur, Awang-awang, Suwarga, Langit, Adoh, Dasa

Demikian tentang sengkalan dan bagaimana cara menentukan kata atau benda yang digunakan untuk menyusunnya.

Dalam menyusun sengkalan ini, seperti sudah saya singgung di paragraf paling awal, tidak bisa sembarangan. Kalimat yang tersusun haruslah menghasilkan makna baru, atau kemudian bisa diwujudkan dalam bentuk gambar atau bentuk lain, sehingga berubah menjadi sengkalan memet.

Contoh sengkalan memet adalah yang banyak tersebar di seputar Keraton Yogyakarta. Anda bisa membaca mengenai uraian sengkalan di situs resmi milik Keraton Yogyakarta. Silakan.

Cukup segini dulu untuk hari ini, semoga bermanfaat.